Wahana Bermain
Coretan

Coretan Jejak di Atas Awan: Gunung Andong

Ijazatu Latifa

Ijazatu Latifa

20 Februari 2025 · 5 menit baca

Coretan Jejak di Atas Awan: Gunung Andong

Oleh: Ijazatu Latifa

Gunung Andong. Siapa yang tak tahu Gunung Andong? Gunung populer di Jawa Tengah dengan ketinggian 1.726 meter di atas permukaan laut ini menawarkan panorama alam yang begitu menyejukkan mata. Sebagai salah satu gunung favorit, Gunung Andong menawarkan beberapa pilihan jalur pendakian diantaranya adalah jalur Sawit, jalur Gogik, dan jalur Pendem. Baru-baru ini, aku berkesempatan untuk menilik Gunung Andong melalui jalur Pendem. Namun, aku tidak sekadar melakukan pendakian saja, aku diajak untuk melakukan kegiatan konservasi dan brand audit sampah pendaki. Kegiatan ini diadakan oleh ShaLink Yogyakarta yang dibersamai AMG Adventure dengan peserta sebanyak lima belas orang.

Mari, akan ku bagikan cerita perjalannya.

Aku bersama teman-teman berangkat dari Sleman, Yogyakarta sekitar pukul 10.30 WIB dengan berboncengan motor. Perjalanan menuju ke sana memakan waktu sekitar dua jam dengan jalan yang berkelok dan menanjak. Di tengah perjalanan, motor yang dikendarai oleh salah satu temanku tidak kuat melintasi medan yang cukup curam sehingga aku dan temanku harus bertukar motor dan aku yang mengendarai motor itu. Hal ini menjadi pengalaman pertama bagi diriku dan ternyata tidak semenyeramkan yang aku kira.

Singkat cerita, tibalah kami di basecamp Gunung Andong via Pendem. Sesampainya di sana, kami beristirahat dan mengisi perut. Lalu sekitar pukul 14.40 WIB perjalanan kami dimulai dari gerbang pendakian Gunung Andong via Pendem. Kami berjalan terus hingga tiba di percabangan jalur utara dan selatan. Di sana kami beristirahat sejenak seraya memutuskan untuk membagi dua kelompok, yang mana kelompok 1 dengan anggota tujuh orang; enam perempuan dan satu laki-laki melintasi jalur selatan. Sementara itu, kelompok 2 yang beranggotakan empat orang laki-laki melewati jalur utara. For your information, empat orang lainnya akan menyusul pada sore hari. Aku menjadi bagian dari kelompok 1 dan kami berjalan terus menyusuri jalur selatan sembari mencari spot untuk menanam bibit pohon yang telah kami bawa, yakni sejumlah 10 bibit. Untuk mendapatkan spot yang ideal itu susah-susah gampang karena lokasinya relatif batuan. Tak terasa, sampailah kami di pos 2, juga merupakan pertemuan dari jalur selatan via Pendem dan jalur Sawit. Kami beristirahat cukup lama di sana dan saat kabut mulai naik, kami meneruskan perjalanan. Kami berjalan pelan-pelan menuju pos mata air. Tak jarang kami beristirahat karena kaki mulai loyo, rasa-rasanya kaki seperti ingin melepaskan diri dari tubuh. Setelah melewati beberapa tanjakan, tibalah kami di pos mata air. Dikarenakan hari yang semakin gelap dan kabut semakin naik, kami tidak berlama-lama di sana. Kami hanya mengisi tiga botol air dan melanjutkan kembali perjalanan menuju pos 3.

Setelah beberapa langkah, tibalah kami di pos 3. Hawa dingin menyambut kami dan menyelinap masuk di rongga baju. Di sana kami menyempatkan untuk meluruskan kaki sejenak dan berswafoto sembari menunggu teman-teman yang masih berada di bawah. Setelah dirasa cukup, kami kembali melangkahkan kaki ke atas menuju camp area. Kami, kelompok 1, tiba di pertigaan dekat makam sekitar pukul 18.00 WIB. Kami menunggu sinyal peluit dari kelompok 2 dikarenakan kesepakatan awal kami akan menggelar tenda di camp area bawah. Namun, kelompok 2 tak kunjung memberi tanda sehingga dua orang dari kami harus menyusul naik ke camp area yang lebih tinggi. Singkatnya, temanku yang naik sudah bertemu dengan kelompok 2 dan diputuskan untuk mendirikan tenda di camp area atas sehingga aku dan teman-temanku langsung bergegas menyusul. Setelah bertemu, kami langsung membagi tugas, ada yang mendirikan tenda, merebus air untuk membuat minuman hangat, persiapan memasak, dan ada pula yang berganti baju karena kedinginan. Setelah semua tenda berdiri, kami bersenda gurau dengan bermain permainan ABC Lima Dasar. Kabut yang semakin menebal dan dingin menusuk kulit tak menghentikan keasyikan kami dalam bersenda gurau. Ketika perut telah kenyang diisi mendoan dan kari maka kantuk tak dapat lagi ditahan. Segera aku dan beberapa temanku bersiap untuk mengistirahatkan tubuh.

Keesokan harinya, Sang Mentari tak menunjukkan dirinya. Kabut menyelimuti Gunung Andong. Kami hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol dan makan. Ketika sedang asyik bercerita, salah satu temanku mengajak untuk summit ke puncak Gunung Andong. Sesampainya di sana, kami berswafoto dengan background putih kabut. Setelah puas berfoto, kami kembali ke tenda tetapi ada juga yang meneruskan perjalanan ke puncak Alap-alap.

Tibalah waktu kami untuk berkemas, kami mencatat apa saja sampah yang kami gunakan selama di atas. Ketika melakukan pendakian, penggunaan sampah plastik tak bisa dihindari. Maka sebab itu, kami harus bertanggungjawab dengan sampah yang kami bawa, apa yang kami bawa ke atas harus kami bawa turun kembali. Sampah pribadi yang ku bawa antara lain, air mineral 1,5L dengan merek VIT, beng-beng, nabati, dan mie instan Indomie serta tiga permen bermerek MintZ.

Setelah selesai berkemas, kami segera turun kembali ke basecamp. Rute perjalanan turun kali ini melalui jalur Pendem, yang mana ini menjadi pengalaman pertama bagiku. Keindahan alam Gunung Andong via Pendem tetap membuat takjub mata meskipun sedikit terhalang kabut. Tiap langkah kami diiringi oleh hamparan hijau yang memukau. Singkatnya, kami telah sampai kembali di basecamp drngan selamat.

Aku sangat menikmati kegiatan yang diadakan oleh ShaLink ini. Tak hanya menyenangkan, kegiatan ini juga memberikan pembelajaran bagi diriku, terlebih mengenai pemilahan sampah basah dan kering. Dan begitulah akhir dari perjalanannya. Perjalanan ini akan terus terekam di memoriku sebagai kenangan yang indah.

Artikel Terkait

Energi Bersih dari Desa: Swadaya Warga Kedungrong dalam Mengelola PLTMH
Coretan

Energi Bersih dari Desa: Swadaya Warga Kedungrong dalam Mengelola PLTMH

Oleh: Kevin Di tengah keterbatasan yang dihadapi, sebuah dusun di pelosok Yogyakarta, tepatnya di Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, dapat menikmati listrik ramah lingkungan dengan biaya yang amat terjangkau. Energi listrik tersebut dihasilkan melalui keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro atau yang dikenal sebagai PLTMH. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro adalah pembangkit listrik dengan skala kecil […]

Kevin Kevin
1 min
Hutan Tanaman Energi di Gunungkidul: Antara Harapan dan Kenyataan
Coretan

Hutan Tanaman Energi di Gunungkidul: Antara Harapan dan Kenyataan

Oleh: Rika Pada bulan Februari 2023, PLN melalui Subholding EPI mulai menjalankan Program Hutan Tanaman Energi (HTE) di Gunungkidul. Program ini ditandai dengan penanaman 50 ribu batang tanaman indigofera, gamal, gmelina, dan kaliandra merah di lahan Sultan Ground seluas 30 hektare. Lahan tersebut berada di Kalurahan Gombang, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Nantinya, HTE akan menghasilkan […]

Rika Rika
1 min
Masyarakat dan Energi Berkelanjutan: Catatan dari Ponjong
Coretan

Masyarakat dan Energi Berkelanjutan: Catatan dari Ponjong

Oleh: Eva Kurniawati Masyarakat memiliki peran penting dalam proyek menyediakan bahan baku untuk energi berkelanjutan yang ramah lingkungan. Melibatkan masyarakat dalam usaha tersebut selain menumbuhkan rasa memiliki, sehingga keberlanjutannya terdukung, juga lebih memberikan manfaatnya kepada lingkungan sekitar. Masyarakat yang memiliki peran yang signifikan juga menjadikan mereka tidak sekadar penonton dari proyek yang dilaksanakan. Salah satu […]

Eva Kurniawati Eva Kurniawati
1 min
Wahana Bermain

Wahana

Bermain.

Ruang eksplorasi tulisan dan perspektif. Lintas isu, lintas genre. Semua orang boleh mencoba.

© 2026 Wahana Bermain · WALHI Yogyakarta

Semua orang boleh mencoba.